PB PMII Kampanyekan Halaqoh Pergerakan Lawan Terorisme

PB PMII Kampanyekan Halaqoh Pergerakan Lawan Terorisme

PCNU Jakarta Utara – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi tiga titik di jakarta yakni di Jl. Sarinah Tamrin, Tugu Tani dan perempatan atrium (9 Juni 2018). Kegiatan ini menanggapi adanya tindakan Bom bunuh diri beberapa waktu lalu, itu yang kemudian Indonesia kembali berduka, Indonesia kembali siaga, Indonesia kembali diguncang aksi peledakan bom. Ratusan hashtag pun di internet terkait serangan bom ini bermunculan dan menghiasi dunia maya Tanah Air, salah satunya #halaqohpergerakanlawanterorisme yang di inisiasi oleh PB PMII Bidang OKP. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menggelar kampanye untuk menolak faham Radikalisme dan Terorisme di bangsa ini, serta mendukung pemerintah dan POLRI untuk melakukan pemberantasan faham tersebut, karena bertentangan dengan asas bangsa Indonesia.

 

Radikalisme dan terorisme kini menjadi musuh “baru” umat manusia. Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun peristiwa peledakan bom akhir-akhir ini seakan mengantarkan fenomena ini sebagai “musuh kontemporer” sekaligus sebagai “musuh abadi”. Banyak pihak mengembangkan spekulasi secara tendensius bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. Tak heran jika kemudian Islam seringkali dijadikan ‘kambing hitam”. Namun dengan demikian, tidak sedikit pula yang percaya bahwa motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Kesadaran ini membawa keinsyafan bahwa upaya penanganannya juga tidak bersifat parsial, namun perlu pendekatan komprehensif secara integral.

 

M. Syarif Hidayatullah selaku ketua bidang OKP PB PMII mengungkapkan “bahwa Sejak bergulirnya reformasi di Indonesia tahun 1998, radikalisme dan terorisme menjadi ramai diperbincangkan. Reformasi membuka kran demokrasi yang tertutup selama 32 tahun selama rezim orde baru berkuasa. Alhasil, ruang eskpresi yang terbuka lebar mendorong lahirnya banyak organisasi dan gerakan keagamaan. Dalam masa ini, berbagai macam kelompok/organisasi baik politik, ekonomi, agama dan sebagainya menemukan tempat untuk mengekspresikan kepentingannya”, ungkapnya.

 

Selain kampanye lawan terorisme, kegiatan ini juga melakukan bakti sosial. Yakni pembagian takjil untuk pengguna jalan, dan stiker kepada masyarakat yang bertuliskan “stop radikalisme”. Dengan hastag #kamibersamapolri, #okp_pbpmii, dan #halaqohpergerakanlawanterorisme. Hal ini yang kemudian saya inginkan melalui media cetak maupun online seluruh masyarakat Indonesia tau dan sadar bahayanya faham radikalisme dan terorisme.

 

Ketua Umum PB PMII sahabat Agus Mulyono Herlambang menegaskan. “Bahwa bangsa indonesia itu merdeka karena di perjuangkan, sedangkan perjuangan itu perlu pengorbanan, lantas mengapa setelah merdeka malah mau dirusak sendiri”, Tegasnya.

 

Hal ini yang kemudian mengingatkan ungkapan sang proklamator bangsa ini bahwa benar “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Tandasnya

 

PMII sebagai organisasi ekstra mahasiswa yang komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia tentu sangat miris dan maras dengan tindakan diluar nalar ini. Maka dari itu saya berharap kepada seluruh rakyat Indonesia terutama kepada generasi muda dan orang tua untuk menanamkan cinta terhadap bangsanya sendiri. Sebagai bentuk pengabdian nya untuk , memelihara, membela, melindungi tanah airnya dari segala ancaman dan gangguan. Pungkasnya’

Share this post