Halal bi Halal : Antara Tradisi dan Syari’at

PCNU Jakarta Utara – Tiba waktunya hari kemenangan teruntuk orang-orang Mukmin setelah selesai melaksanakan Ibadah rukun islam Puasa dan zakat. Pada kenyataannya bahwa aktivitas Halal bi halal hanya jatuh pada Hari Raya Syawal atau Idul fitri dan tidak akan ditemukan di selain bulan ini.

Aktivitas ini dilaksanakan berupa kunjungan menemui sanak famili atau saling mendatangi rumah para tetangganya di masing-masing daerahnya. Terlepas dari itu meskipun tujuan utamanya hanya sebatas maaf-maafan. Namun aktivitas ini sudah berjalan sejak awal-awal berdirinya Republik Indonesia.

Pada dasarnya, dalam agama bahwa perbuatan meminta maaf tidak dibatasi dengan waktu maupun kondisi tertentu, melainkan kapanpun dan dimanapun hal itu sangat dianjurkan.
sebagaimana firman Allah.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik,” [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain ditegaskan,
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali-Imran/3:134]

Jika kita tela’ah ayat tersebut, maka tidak ditemukan secara eksplisit batasan waktu kapan dan dimana untuk meminta maaf kepada seseorang, akan tetapi anjuran tersebut merupakan sesuatu yang disyariatkan oleh agama.
Lalu, bagaimana dengan aktivitas Halal bi Halal yang hanya berlaku di bulan syawal?

Berdasarkan sejarahnya, bahwa pada awal kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1948 tepatnya di bulan Ramadhan di bawah pimpinan Alm. Presiden Soekarno, terjadi gejolak politik yang kian meresahkan. Keresahan itu terjadi diantaranya, karena faktor para elit politik yang saling berselisih akibat perbedaan pendapat dsb. Sehingga Soekarno mengundang Alm. KH. Wahab Hasbullah untuk datang ke Istana untuk dimemintai pendapat.

Singkat cerita, kemudian KH. Wahab Hasbullah memberikan saran agar para jajaran elit pemerintah dipertemukan dalam satu agenda silaturahim, mengingat menurut beliau bahwa saling berselisih hingga saling menyalahkan adalah perbuatan dosa (haram). Maka sebagai peleburnya adalah mereka harus dihalalkan dengan cara saling memaafkan, saling menghalalkan satu sama lain. Oleh karena itu beliau menggunakan istilah “halal bi halal”.
Adapun halal bi halal atau Thalabul halal min thariqin halal berasal dari bahasa arab, yang artinya meminta halal dari jalan yang halal atau mencari titik temu solusi permasalahan menuju keharmonisan dengan memaafkan.
Lalu, ketika tiba waktunya Hari Raya Idul Fitri, Soekarno mengundang seluruh elemen pejabat negara untuk bersilaturahim, berdiskusi soal masa depan kondisi bangsa dan diakhiri dengan Saling memaafkan diantara mereka.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas ini kerap menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia di hari Raya Iedul Fitri selama bulan syawal yaitu dengan cara saling meminta maaf antar sesama. Sehingga halal bi halal telah menjadi sebuah tradisi baik yang dimiliki oleh warga Indonesia.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, bahwa tadisi halal bi halal adalah hasil produk gagasan para ulama Indonesia yang bersandarkan pada anjuran syariat islam (saling memaafkan) dan bukan (halal bi halal) sebagai perintah yang harus dilakukan oleh seluruh umat muslim di dunia. Pasalnya, halal bi halal hanya ada dan dilaksanakan di Indonesia.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan momentum Hari Raya Idul Fitri dengan melaksanakan tradisi Halal bi halal bersama keluarga, tetangga, dan kawan-kawan. Semoga pelaksanaan tradisi baik ini kelak akan mendapatkan ridha-Nya, karena niat melaksanakan tradisi baik jalannya pasti akan baik juga. Wallahu a’lam.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1439H
“Taqabbalallahu Minna wa Minkum,
Taqabbal ya Karim”

 

(Sumber : BincangSyari’ah.com)

Share this post

4 thoughts on “Halal bi Halal : Antara Tradisi dan Syari’at

Comments are closed.