K. H Ali Mahfud NU Itu Menjadi Unik Dengan Islam Nusantaranya

K. H Ali Mahfud NU Itu Menjadi Unik Dengan Islam Nusantaranya

PCNU Jakarta Utara – PKD PAC Ansor Jatinegara Kota Administrasi Jakarta Timur melakukan kegiatan kaderisasi formal di Yayasan Ar-Rahmah Pulau Tidung Kabupaten Pulau Seribu (25/08/2018) dimana peserta yang hadir kurang lebih dihadiri 51 orang calon kader Ansor.

Dalam kesempatan kali ini pemateri pertama disampaikan oleh ketua PCNU jakarta Utara Bapak K. H Ali Mahfud M. A yang dalam kesempatan kali ini menjadi narasumber dengan materi Aswaja, dimana materi tersebut merupakan materi wajib bagi calon kader-kader Ansor yang ada.

Dalam pemaparannya Pak Kyai Ali menyampaikan “NU itu unik, bahwa ternyata ada banyak kader-kader NU yang berada di organisasi-organisasi lainnya yang bukan NU, artinya kader-kader NU memiliki daya jelajah yang luas dan kita sama-sama berharap agar kader-kader tersebut dapat selalu menebarkan islam rahmatan lil alamin di bumi pertiwi ini.

Lebih lanjut ia menambahkan “islam Nusantara itu mengandung makna yang sangat dalam, ketika kita memahami agama secara tekstual saja maka kita akan keluar dari konteks-konteks yang maknanya menjadi sempit, sebab dalam agama itu ada konteks yang berbeda, yang berbeda itu apa saja yaitu yang mengarah kepada kebiasaan-kebiasaan yang ada, di Indonesia sendiri kebiasaan itu berbeda-beda. Contohnya saja tahlilan di Jakarta dan jawa tengah itu berbeda, ketika Tahlil di Jakarta dikasih pengganti uang transportasi (amplop) itu belakangan, sedangkan di Jawa Tengah itu duluan sebelum tahlil itu dimulai padahal sebetulnya dalam pemberian amplop tersebut bukanlah hal yang wajib atau diharuskan hanya saja sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukur atas kehadirannya kepada orang yang dianggap pintar dalam memimpin tahlil. Hal seperti itu saja merupakan sebuah pembedaan-pembedaan yang memang ada dan tidak perlu dijadikan sebuah persoalan, sebab hal itu sudah menjadi tradisi yang lumrah di masyarakat kita selama tidak memberatkan keluarga yang mengundangnya,” terangnya.

Bahkan disetiap daerah sendiripun memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, contoh paling gampang dalam Syariat yaitu terkait menutup aurat, di semua daerah tidak sama dalam menutupi auratnya, dimana orang arab memakai gamis, orang eropa dengan celana jeans atau bahan sedangkan warga NU identik dengan sarungan, batikan dan memakai kopiah. Artinya perbedaan itu bukan menjadi persoalan dan hal itu memang ada dan yang paling terpenting itu intinya menutup auratnya, semua harus tertutup sebagai mana mestinya sesuai syarat sah dalam sholat.

Di arab sendiri orang-orang yang memakai gamis melakukan kegiatan dalam bentuk apapun (ibadah dan rutinitas sehari-hari) dan itu sudah menjadi kebiasaan dan tradisi disana.

Maka saya berharap agar kita jangan mengkait-kaitkan tradisi atau kebiasaan yang ada lalu dipersoalkan dalam agama kita, melestarikan tradisi tanpa mengurangi hal-hal yang wajib dalam beragama adalah sebuah rahmat, yang menjadi masalah ketika Islam Nusantara dalam ajaran beribadahnya contoh (sholat maghrib menjadi 2 rakaat) maka itu yang tidak dibenarkan dan itu salah besar serta keliru.

Dalam sebuah tradisi itu bahwa yang namanya tradisi jika sudah kuno dan dianggap kurang baik maka perlu diperbaharui dengan konteks kekiniin yang memiliki nilai-nilai yang lebih baik lagi dari sebelumnya itu sah-sah saja, akan menjadi persoalan ketika sebuah tradisi dirubah atau diperbaharui ke arah yang lebih buruk lagi dan itu baru menjadi sebuah masalah.

Bahwasanya tipologi islam kaum nahdiyyin di Indonesia itu identik dengan sarungan dalam beribadah,” tutupnya. (admin)

Share this post