Islam Nusantara Bukan Ajaran Baru

Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Utara, KH. Ali Mahfudz, MA

PCNU Jakarta Utara – Terminologi Islam Nusantara saat ini masih menuai sebuah perdebatan yang menarik hati publik, baik di media sosial maupun di tengah-tengah masyarakat. Lalu bagaimanakah Islam Nusantara itu?, berikut pendapat dari Ketua PCNU Jakarta Utara, KH. Ali Mahfudz :

Islam Nusantara terdiri dari dua suku kata. Islam dan Nusantara. Ini yang akan kita kaji. Jadi kita tidak mengkaji hal hal negatif yang dihubungkan dengan Islam Nusantara seperti dalam beberapa broadcast di medsos. Yang akan saya sampaikan murni dalam bentuk kajian ilmiah.

Kembali ke persoalan pertama bahwa Islam Nusantara terdiri dari dua suku kata.

Islam. Apa itu Islam? Islam adalah agama yang mengikat kita dalam melaksanakan hukum hukum syariat seperti penjelasan Syaikh Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah dalam kitab Ghayatul Manii Syarah Safinatinnajah hal. 43,

ألإسلام) لغة : ألإستسلام وألإنقياد ، وإصطلاحا : ألإنقياد)

الظاهرى للأحكام الشرعية

“(Islam) secara bahasa adalah keselamatan, ikatan ikatan. Sedangkan dalam istilah (aqidah) adalah ikatan yang jelas terhadap hukum hukum syariat.”

Dari dalil di atas telah jelas bahwa agama kita adalah agama yang mengatur pemeluknya untuk melaksanakan syariat.

Nusantara. Apa itu Nusantara ? Dalam bahasa arab kata ini disebut al wahtnu (الوطن). Biasa juga dimaknai tanah air. Adapun penjabaran dari tanah air diantaranya disampaika oleh Imam al Jurjani dalam kitab Ta’rifat hal. 327,

الوطن الأصلى هو مولد الرجل والبلد هو فيه

“Yang dimaksud Tanah Air adalah dimana ada seseorang yang lahir dan di dalam negeri dia berdiam di dalamnya”.

Jadi kesimpulan dari Islam Nusantara adalah agama Islam yang dianut oleh penduduk di tanah air Indonesia. Dengan kata lain bahwa umat Islam di Indonesia menganut agama Islam dengan ciri khas “keindonesiaannya”. Mereka mengamalkan syariat serta melestarikan budaya yang tidak bertolak belakang dengan ajaran syariat.

Apakah boleh melestarikan budaya ? Hukumnya boleh ketika budaya tersebut tidak menyelisihi syariat. Dalam kaidah fikih disebutkan,

ألعدة المحكمة مالم يخلف الشرع

“Budaya boleh dijadikan sebagai pijakan hukum selagi tidak bertolak belakang dengan syariat.”

Ada pertanyaan, lho itu kan mentradisikan budaya yang tidak berhubungan dengan amaliyah ibadah. Bagaimana jika tradisi itu berhubungan dengan amaliyah ibadah, apa tidak mencampur adukkan antara budaya dengan syariat. Jawabannya adalah dalam beberapa amaliyah syariat ada unsur budaya yang terbawa. Misalnya dalam shalat. Salah satu syarat shalat adalah sitrul aurat (menutup aurat), Itu syariat. Kemudian dengan apa kita menutupnya? tentu dengan cara masing masing yang sesuai dengan ciri khas daerah maupun negara.

Selama ini amaliyah umat Islam seperti ini di Indonesia sudah beratus ratus tahun mengamalkannya. Dan kemudian NU mem branding amaliyah tersebut dengan sebutan Islam Nusantara.

Dari apa yang saya sampaikan di atas bahwa jelas Islam Nusantara bukan sebuah ajaran, apalagi syariat baru yang menyimpang dari aqidah islam.

 

Wallahu a’lam bisshowab

Share this post