Hukum Menikung Kekasih Orang

Hukum Menikung Kekasih Orang

PCNU Jakarta Utara – Kisah cinta memang tidak selalu berakhir dengan happy ending. Jalinan asamara yang dirajut selama bertahun-tahun terkadang rusak sebab nila setitik. Orang ketiga yang baru saja masuk dalam putaran terakhir, berhasil menikung dan menyalip dalam perebutan sang pujaan hati.

Mungkin mukadimah di atas terlalu over dalam menggambarkan persoalan kita di sini. Tapi tidak masalah, sebab begitulah realitanya. Dua kekasih yang telah lama menjalin hubungan bahkan telah mengucapkan “janji setia sehidup semati” harus berpisah sebab sang wanita menemukan tambatan hati lain. Hal bisa disebabkan sebab yang beragam, adakalanya ada paksaan dari orang tua atau bisa yang lainnya.

Namun bukan itu yang hendak kita bahas di sini. Kita lebih fokus untuk mencari tahu hukum orang ketiga yang merebut kekasih orang. Merebut yang dimaksud di sini ialah melamar.

Jadi, bagaimanakah hukum melamar wanita yang statusnya adalah kekasih orang?

Dari kitab-kitab fikih disimpulkan bahwa melamar kekasih orang lain ialah hukumnya boleh-boleh saja. Sebab ikatan atau jalinan asmara bukanlah sebuah ikatan yang diakui oleh syariat, bahkan bisa diharamkan sebab bisa menimbulkan hal-hal yang menjurus pada keharaman. Seperti berdua-duaan, bersentuh-sentuhan, ataupun berpandang-pandangan pada lawan jenis yang bukan mahram. Semua itu adalah diharamkan.

Hukum melamar kekasih orang bisa haram jika status si wanita sudah dilamar oleh kekasihnya. Kecuali, jika pelamar pertama sudah jelas-jelas ditolak atau ia sudah tidak berminat lagi. Sebab ada larangan jelas dari sabda Nabi Saw:

لاَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

“Tidak boleh seorang laki-laki melamar orang yang dilamar saudaranya, sampai si pelamar meninggalkannya atau memberinya izin.”

Lantas, apakah janji setia yang pernah diucapkan oleh dua pasang kasih bisa dikatakan sebuah lamaran?

Hal ini diperinci:

Jika status si wanita adalah perawan maka hal ini tidak bisa dikatakan sebuah lamaran. Sebab seorang perawan tidak memiliki hak untuk menerima sebuah pinangan, melainkan hal tersebut adalah milik wali.

Namun jika wanita itu adalah seorang janda, maka bisa dikatakan sebuah pinangan. Sebab seorang janda seudah dikatakan memiliki hak yang indepeden terhadap dirinya. Wallahu a’lam. (Serambi Lirboyo/Red)

Share this post