Pentingnya Berprasangka Baik Menurut Syaikh Yusuf al-Makassari

Pentingnya Berprasangka Baik Menurut Syaikh Yusuf al-Makassari

PCNU Jakarta Utara – Syaikh Yusuf al-Makassari, sufi besar dan ulama kharismatik Makasar yang meninggal di Cape Town Afrika Selatan pada abad ke-17, menulis nasihat-nasihat kesufiannya dalam kitab Zubdat al-Asrar fi Tahqiq Ba’dh Masyarib al-Akhyar. Diantara nasihatnya adalah tentang pentingnya berprasangka baik, tidak mudah curiga, dan selalu berharap yang lebih baik kepada semua manusia. Meskipun, mereka selalu berbuat maksiat. Berikut ini petikan-petikan nasihat beliau, seperti yang disunting oleh Prof. Nabilah Lubis dalam bukunya Menyingkap Intisari Segala Rahasia,

وتجب عليه أيضا أن يحسن الظن بالناس أجمعين وإن وقعوا في المخالفات فضل عن غيرهم فإن رحمة الله أوسع من ذلك. فقال تعالى: ورَحْمَتِيْ سَبَقَت غَضَبِيْ. ولا شك أن الذنوب كلَّها كانت من جملة الأشياء والكل من الأشياء وسعتها رحمته بنص القول الإلهي فاعلم ذلك

Wajib bagi seorang hamba untuk berprasangka baik kepada semua orang, meskipun orang-orang itu sedang bergelimang dalam maksiat, apalagi yang tidak (orang-orang yang taat). Karena sejatinya, rahmat Allah lebih luas dari itu semua. Allah berfirman (dalam hadis Qudsi) : (Dan rahmat-Ku mendahului murka-Ku). Dan, tidak diragukan lagi semua dosa itu hanyalah bagian dari segala sesuatu di alam semesta ini. Dan Segala sesuatu di alam semesta ini tercakup di dalam rahmat-Nya, sesuai dengan firman Ilahi-Nya. (Menyingkap Intisari Segala Rahasia, h. 82).

Ada aneka dalil – menurut Syaikh Yusuf – yang mendukung argumen ini. Dan, alasan kita harus berprasangka baik meskipun hamba itu pelaku maksiat adalah karena kita tidak tahu bisa saja ia sedang atau akan bertaubat. Sehingga, ia menjadi kembali kepada rengkuhan Allah Swt. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw., yang diriwayatkan dalam Sunan Ibn Majah,

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa lagi”

Dalil berikutnya adalah firman Allah Swt. dalam surah al-Baqarah [2]: 222,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan yang mensucikan diri”

Orang-orang yang bertaubat terus menerus dalam ayat 222 tersebut, menggunakan kata Tawwab. Seperti kata Syaikh Yusuf, kata Tawwab menunjukkan arti mubaalaghah (superlative), yang bermakna terus menerus bertaubat. Orang yang terus menerus bertaubat berarti adalah orang yang banyak dosanya. Namun begitu, tapi hamba tersebut terus bertaubat atas dosa yang diperbuatnya. Inilah yang menjadikan pentingnya seseorang untuk terus berprasangka baik kepada semua orang, dan mendoakan mereka para pelaku maksiat, untuk berubah dan menjadi lebih baik lagi. Wallahu A’lam.***

Oleh : Muhamad Masrur,

Sumber : BincangSyari’ah.com

Share this post