Cerita Si Mangga

Cerita Si Mangga

PCNU Jakarta Utara – Mangga yang ditanam di halaman PCNU adalah sebuah simbul. Jika kecil maka dia butuh disiram, dirawat hingga tumbuh membesar.

Sengaja ditanam di samping gerbang atau pagar kiri dan kanan. Sebagaimana konsep dalam sebuah kerajaan maka butuh dua prajurit dengan membawa tombaknya. Jika ada yang mau masuk maka minta izin kepada dua prajurit tersebut. Jika niatnya baik dan sudah dikenal maka tombak yang disilangkan tersebut akan dibuka agar tak menghalangi jalan.

Mangga dalam bahasa jawa sebagai kata ganti monggo, mempersilahkan masuk atau berpamitan sebagai salah satu bentuk sapaan. Konsep pemikiran yang digelar ini adalah usaha melestarikan spirit masa lalu yang juga diajarkan oleh para pendahulu.

Ketika kecil butuh perawatan, jika besar maka akan dekat dengan bunga untuk menghasilkan buah. Namun jika buah tersebut masih kecil akan dianggap biasa saja. Namun jika sudah besar apalagi matang, biasanya akan menjadi rebutan. Orang banyak mengeklaim, saling merasa punya jasa dalam membentuk dan menyiramnya dan seterusnya.

Menanam di pinggir gerbang tersebut inspirasinya dari konsep majapahit dan pajajaran. Syukurnya PCNU Jakarta Utara masih punya latar depan, meskipun latar belakang yang biasanya digunakan tempat jemuran dan pembauangan sudah tidak sempat terpikirkan.

Latar depan atau halaman adalah tempatnya bertemunya mahkluk hidup, baik hewan, tumbuhan dan seterusnya. Tumbuhan selain bunga untuk ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, buah dan tanaman obat untuk manusia, merupakan bagian dari ekologi dalam menjaga ekosistem. Karena tanah bukan hanya untuk manusia saja, namun juga haknya mahkluk Tuhan lainnya.

Semoga potensi apa saja yang ada di rumah besar kita semua khusunya PCNU utara menjadi lebih terawat dan terperhatikan, untuk mengalami proses terbentuk kemudian menjadi resep obat dan hidangan apa saja yang bisa menemukan kemanfaatannya yang lebih maksimal.

Ilustrasi
Buah mangga kecil tidak banyak yang suka, namun jika besar dan matang orang bisa jadi berebut untuk merasakannya. (Red)

Oleh :

Cak Rokhim (PC. Lesbumi Jakarta Utara)

Share this post

Post Comment